Sabtu, 20 Desember 2014

ARGUMENTASI dan Narasi Komposisi Lanjut III

Resensi “ ARGUMENTASI dan NARASI”


Jenis buku                   : Non Fiksi / Bahasa dan Sastra
Judul Buku                  : ARGUMENTASI dan NARASI
Nama Pengarang         : Dr. Gorys Keraf
Nama Penerbit            : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit                : Jakarta 1982
Tahun Cetak                : 1981
Jumlah Halaman          : xi+209



   Tujuan dan Latar belakang

Buku Argumentasi dan Narasi merupakan penggabungan dari “ diksi dan gaya bahasa, Eksposisi dan Deskripsi, Komposisi edisi sebelumnya “, dengan demikian dapat menampung kebutuhan menuntun dan membimbing seeorang menyusun wacana – wacana yang bersifat ilmiah atau ilmiah popular.
Pada bagian pertama dalam buku ini membahas mengenai makna argumentasi dan narasi yang dimana argumentasi merupakan seorang dapat mempengaruhi dan mengubah sikap dari pandangan orang lain, sedang kan narasi dapat mengubah sikap orang lain jauh lebih dominan ke argumentasi baik dari pembaca maupun pendengarnya.
Bagian kedua pada buku ini membahas bentuk wacana terakhir yaitu narasi dan deskripsi, Dimana narasi terikat dan mengikat diri pada waktu, sedangkan deskripsi tidak mengikat pada waktu sehingga bersifat statis dan dinamis pada narasi.
Deskripsi dan narasi dapat dimasukan kedalam teknik – teknik eksposisi bila sasarannya penbaca yang tahu mengenai suatu objek tanpa mempersoalkan kesan. Bila sudah menyentuh kesan maka narasi itu menjadi narasi sugestif, apabila seorang lebih menekankan segi sugestif maka karangannya tergolong dalam karya sastra dan apabila seseorang lebih menekankan segi perluasan pengetahuan teknis maka karangannya masuk ke dalam kelompok ilmiah atau ilmiah popular.


  Daftar pokok isi buku

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAGIAN PERTAMA
(ARGUMENTASI)

BAB I             PENALARAN
BAB II            PERNYATAAN KATAGORIAL
BAB III          INDUKSI
BAB IV          DEDUKSI
BAB V           PENOLAKAN
BAB VI          TULISAN ARGUMENTATIF
BAB VII         PERSUASI

BAGIAN KEDUA
(NARASI)
BAB I             PENDAHULUAN
BAB II            STRUKTUR NARASI
BAB III          STRUKTUR PERBUATAN
BAB IV          MAKNA SEBUAH NARASI
BAB V            SUDUT PANDANG

BIBLIOGRAFI
INDEKS



Kelebihan dari buku Argumentasi dan Narasi
  •        Pembaca  dapat membantu penyusunan skripsi
  • .      Bisa mengemukakan pendapat dan pikiran secara argumentasi,logis dan kritis secara tertulis      maupun lisan

Kekurangan Argumentasi dan Narasi
  • .      Isi dari materi terlalu Meluas, sehingga susah di pahami

      Materi dalam "ARGUMENTASI dan NARASI" Lanjut III
                                              
                           1. Argumentasi
Argumentasi adalah suatu bentuk retorika yang berusaha memengaruhi sikap dan pendapat orang lain, agar mereka percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan yang diinginkan oleh penulis atau pembicara. Melalui argumentasi, penulis berusaha merangkaikan fakta-fakta sedemikian rupa, sehingga ia mampu menunjukkan apakah suatu pendapat atau suatu hal benar atau tidak. Argumentasi merupakan dasar yang paling fundamental dalam ilmu pengetahuan. Dan dalam ilmu pengetahuan, argumentasi tidak lain adalah usaha untuk mengajukan bukti-bukti atau kemungkinan-kemungkinan untuk menyatakan sikap atau pendapat mengenai suatu hal.Sementara narasi berusaha menjawab pertanyaan “Apa yang telah terjadi?” Suatu bentuk wacana yang sasaran utamanya adalah tindak-tanduk yang dijalin dan dirangkaikan menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dalam suatu kesatuan waktu. Atau dapat juga dirumuskan sebagai berikut: narasi adalah suatu bentuk wacana yang berusaha menggambarkan dengan sejelas-jelasnya kepada pembaca suatu peristiwa yang telah terjadi.
Pada Bagian Pertama, yakni Argumentasi, Dr. Gorys Keraf menguaraikan: bagaimana menyusun penalaran yang logis dan kritis, metode induksi dan deduksi, bagaimana mengadakan penilaian atau penolakan terhadap pendapat orang lain, penyusunan tulisan yang argumentatif, dan juga mengenai persuasi. Sedangkan pada Bagian Kedua, yaitu Narasi, penulis membahas: bentuk-bentuk narasi, strukur narasi, struktur perbuatan, makna sebuah narasi dan sudut pandangan. Kesemuanya itu diuraikan secara terperinci dan sistematis, lengkap dengan contoh-contoh (dan kadang-kadang juga disertai skema-skema) yang jelas dan mudah dimengerti.
Ditulis oleh ahli bahasa terkemuka di Indonesia, Dr. Gorys Keraf,Argumentasi dan Narasi sangat bermanfaat, terutama bagi mahasiswa. Buku ini membantu mahasiswa dalam penyusunan paper, maupun skripsi, serta memberikan dasar-dasar mengemukakan pendapat dan pikiran secara argumentatif, sistematis, logis, dan kritis, baik lisan maupun tulisan.
Salah satu titik berat buku yang ditulis ini adalah Argumentasi. Buku ini merupakan rangkaian dari buku Komposisi-yang sudah mengalami beberapa kali cetak ulang -- Diksi dan Gaya Bahasa, dan Eksposisidan Deskripsi dari penulis yang sama.


Buku ini amat banyak manfaatnya bagi para mahasiswa, terutama dari fakultas ilmu-ilmu budaya dan ilmu-ilmu sosial, karena ia memberikan dasar-dasar untuk mengemukakan pendapat dan pikiran secara argumentatif, sistematis, logis dan kritis, baik lisan maupun dalam tulisan. Di samping itu, buku ini pun akan banyak membantu para mahasiswa dalam penyusunan paper maupun skripsi.

2. Penalaran Deduktif & Induktif
1. Pengertian Penalaran

Menurut Gorys Keraf, penalaran adalah suatu proses berpikir yang menghubungkan fakta – fakta untuk memperoleh suatu kesimpulan yang logis. Penalaran tidak hanya dapat dilakukan dengan memakai fakta – fakta yang polos, tetapi penalaran juga dapat menggunakan fakta – fakta yang berbentuk pendapat atau kesimpulan. Sebagai mahasiswa, kita dituntut untuk mepunyai penalaran yang sangat peka terhadap setiap mata kuliah maupun keadaan yang terjadi disekitarnya.

Sedangkan dalam buku Cermat Berbahasa Indonesia karangan E. Zaenal Arifin dan S. Amran Tasai, penalaran adalah suatu proses berpikir manusia untuk menghubung-hubungkan data atau fakta yang ada sehingga sampai pada suatu simpulan.

Secara umum penalaran dapat diartikan sebagai proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.

2. Metode Penalaran, Induktif & Deduktif

2.1 Penalaran Induktif

Induksi / induktif adalah suatu proses berpikir yang bertolak dari sejumlah fenomena individual untuk menurunkan suatu kesimpulan (inferensi). Proses penalaran ini mulai bergerak dari penelitian dan evaluasi atas fenomena-fenomena yang ada. Karena semua fenomena harus diteliti dan dievaluasi terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh ke penalaran induktif, maka proses penalaran itu juga disebut sebagai corak berpikir yang ilmiah. Namun induksi sendiri tak akan banyak manfaatnya kalau tidak diikuti oleh proses penalaran deduktif.


2.2 Penalaran Deduktif

Sebagai suatu istilah dalam penalaran, deduktif / deduksi adalah merupakan suatu proses berpikir (penalaran) yang bertolak dari sesuatu proposisi yang sudah ada, menuju kepada suatu proposisi baru yang berbentuk suatu kesimpulan. Dari pengalaman-pengalaman hidup kita, kita sudah membentuk bermacam-macam proposisi, baik yang bersifat umum maupun bersifat khusus. Dalam penalaran deduktif, penulis tidak perlu mengumpulkan fakta-fakta. Yang perlu baginya adalah suatu proposisi umum dan suatu proposisi yang mengidentifikasi suatu peristiwa khusus yang bertalian dengan suatu proposisi umum tadi. Bila identifikasi yang dilakukannya itu benar, dan kalau proposisinya itu juga benar, maka dapat diharapkan suatu kesimpulan yang benar.
Uraian mengenai proses berpikir deduktif ialah seperti silogisme kategorial, entimem, rantai deduksi, silogisme alternatif, silogisme hipotesis dan sebagainya.
Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.


Saran
Apabila ingin mempelajari, sebaiknya didampingi dengan para ahli yang lebih mengerti supaya bisa cepat untuk dipahami.

Kesimpulan
Suatu pembelajaran untuk membuat para pembaca bisa mengungkapkan pendapat orang lain  dengan pemikiran yang logis dan kritis,  baik lisan maupun tulisan.




1 komentar: